Semenjak
struktur 3D (tiga dimensi) DNA dielusidasi pada tahun 50an oleh Watson dan
Crick, ilmu Biokimia telah berkembang demikian pesat. Setelah elusidasi
struktur DNA, Biokimia diperkaya dengan penemuan-penemuan lanjutan yang tidak
kalah penting, seperti penemuan fungsi enzim restriksi, elusidasi struktur 3D
protein, sekuensing DNA/RNA/Protein dan tentu saja penggunaan teknologi DNA
rekombinan, yang membuka lebar berbagai kemungkinan pada riset rekayasa
genetika. Babak baru dalam perkembangan ilmu biokimia terjadi pada pengumuman Human
Genome Project (Proyek Genom Manusia/PGM). Proyek ini bertujuan untuk
mensekuensing seluruh sekuens DNA (Genom) yang terdapat pada manusia. Setelah
proyek sekuensing ini selesai, diharapkan kedepannya informasi dari Genom tersebut
bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai mekanisme
ekspresi genetik, interaksi protein-protein, dan mekanisme penularan virus pada
manusia. Aspek rekayasa dari proyek ini, tentu saja adalah untuk mendesain agen
terapi untuk berbagai penyakit, baik penyakit menular atau tidak menular.
Setelah proyek ini selesai pada tahun 2001, pada database genbank di situs NCBI
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) ,
terdapat berbagai data sekuens DNA/RNA/Protein, yang tersebar di berbagai
entri. Namun, apakah makna dari semua data sekuens tersebut? Bagaimana
mengkonversi data-data mati tersebut, menjadi informasi yang berguna demi
kepentingan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan? Mari kita simak.
Bersamaan
dengan pengembangan ilmu Biokimia/Biologi Molekuler, Teknologi Informasi (TI),
sebagai ilmu yang baru, juga berkembang pesat. Semenjak Intel, IBM, dan
Microsoft berkolaborasi untuk menciptakan IBM PC, maka komputer menjadi barang
yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Sementara Apple menciptakan Macintosh,
yang adalah komputer dengan GUI (Graphical User Interface), yang segera ditiru
oleh Microsoft dengan Windowsnya. Dengan demikian, komputer menjadi semakin
mudah digunakan, karena berbasis grafis. Akhirnya, perkembangan dunia TI telah
mencapai babak baru, setelah Linus Torvald menciptakan sistim operasi Linux,
yang adalah Open Source. Dengan kaidah Open Source, maka dimungkinkan
diciptakan software, yang dapat digandakan, dan dimodifikasi tanpa mendapat
tuntutan hak cipta (copyrights). Prinsip ini memungkinkan penyebaran ilmu
pengetahuan, tanpa batas, dan murah. Contoh dari aplikasi Open Source adalah
ensiklopedia Wikipedia. Adapun TI telah sukses diaplikasikan pada industri
kelas berat, seperti keuangan dan militer. TI pun juga telah sukses
diaplikasikan pada dunia kedokteran/kesehatan, misalnya untuk manajemen rumah
sakit, dan Medical Imaging. Namun, bagaimana peran TI dalam
menyelesaikan masalah Biokimia/Biologi Molekuler? Bagaimana hubungannya dengan
ilmu kimia?
Setelah
PGM diselesaikan, muncul masalah baru. Sebab, untuk mengetahui mekanisme
biokimiawi/biomolekuler pada tubuh manusia, informasi mengenai sekuens DNA saja
tidak cukup. Diperlukan juga informasi mengenai sekuens RNA dan Protein. Akhirnya,
data mengenai sekuens protein sudah mulai banyak, namun akhirnya muncul
pertanyaan baru lagi. Hanya dengan mengetahui sekuens protein, tidak mungkin
mengetahui bagaimana reaktivitas protein. Reaktivitas protein sangat tergantung
pada struktur protein, dengan kata lain struktur primer, sekunder, tersier dan
kuartenernya harus diketahui. Jika membicarakan struktur protein, ini sudah
memasuki ilmu kimia, sebab dalam pembentukan struktur protein, ikatan kimia
berperan sangan penting. Contohnya, peranan ikatan hidrogen, van der waals,
kovalen, dan ionik, semuanya berperan penting dalam pembentukan struktur
protein. Dalam mendesain obat modern, selain informasi sekuens, informasi
mengenai ikatan kimia sangat penting. Interaksi protein-obat adalah tema riset
yang sangat penting dalam kimia farmasetikal. Prinsipnya, pengetahuan mengenai
struktur protein, akan memimpin kita pada pengetahuan mengenai fungsi protein.
Jika fungsi protein diketahui, maka pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai
mekanisme protein, mekanisme penularan virus, dan masalah biomedis lainnya,
akan mulai mendasar. Namun untuk mengetahui struktur protein secara lengkap,
wajib mengetahui ilmu kimia. Ilmu TI di masa sekarang, telah memungkinkan untuk
mengkomputasi struktur protein secara lengkap, dan juga untuk mengkomputasi
interaksi ikatan, dan juga interaksi protein dengan obat atau inhibitor. Hal
ini sebenarnya juga telah dilakukan pada riset kimia teoritis, dimana untuk
mengetahui energi minimum dari suatu konformasi senyawa, diperlukan tenaga
komputasi yang sangat besar, terutama jika senyawa tersebut sangat kompleks.
Bioinformatika dalam perspektif ini, bisa ditafsirkan sebagai upaya kimia
teoritis untuk menyelesaikan masalah kedokteran/kesehatan/famasetikal.
Artikel diatas bersumber dari :
1. Claverie,
Jean et al. 2003. Bioinformatics for Dummies. Mc Graw Hill. New York
2. Huheey,
James et al. 1997. Inorganic Chemistry: Principle of Structure and Reactivity.
Komentar :
Artikel yang tertulis di atas adalah artikel yang membahas tentang hubungan sinergis antara Bioinformtika dan Biokimia. Hubungan ini membantu sekali dalam mengetahui DNA seseorang. Dan dengan adanya manusia sangat dibantu sekali untuk mendesain agen
terapi untuk berbagai penyakit, baik penyakit menular atau tidak menular..
Lina Ayu Sari D.
56409099
4ia07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar